Krisis Politik Italia Bikin Bursa Saham Global Rontok

Agustiyanti, CNN Indonesia | Rabu, 30/05/2018 06:05 WIB
Krisis Politik Italia Bikin Bursa Saham Global Rontok Krisis politik di Italia membuat investor global panik. Pasar saham di seluruh dunia jatuh pada Selasa (29/5). (REUTERS/Brendan McDermid)
Jakarta, CNN Indonesia -- Krisis politik di Italia membuat investor global panik. Pasar saham di seluruh dunia jatuh pada Selasa (29/5) dan investor meminta imbal hasil yang tinggi terhadap surat utang Pemerintah Italia.

Bursa saham Italia anjlok lagi 3 persen, mengakumulasi penurunan di pekan ini. Saham perbankan paling banyak terpukul, beberapa di antaranya bahkan anjlok lebih dari lima persen.

Selain bursa saham Italia, indeks CAC 40 di Perancis turun 1,29 persen, indeks DAX di Jerman turun 1,53 persen, dan  indeks AEX di Belanda turun 0,91 persen.


Tak hanya berimbas di Benua Eropa, bursa Wall Street juga ikut terpukul. Indeks Dow Jones turun 1,6 persen atau sekitar 392 poin, sedangkan S&P 500 dan Nasdaq tergelincir masing-masing 1,1 persen dan 0,5 persen.

Dikutip dari CNN.com, investor khawatir pemilihan umum (pemilu) baru di Italia akan berakhir kacau dan mempengaruhi negara di sekitarnya. Kekhawatiran tersebut membuat imbal hasil utang Spanyol, Portugis, dan Yunani ikut melonjak.

Italia sedang menuju pemilihan baru setelah politisi populis gagal membentuk pemerintahan. Partai-partai radikal dapat memperoleh lebih banyak lagi tanah, dan para investor khawatir bahwa pemungutan suara akan berubah menjadi referendum de facto terhadap euro.

Beberapa pengamat pasar khawatir Italia pada akhirnya akan keluar dari Uni Eropa , skenario yang mereka sebut "Italexit" atau "Quitaly".


Salah satu risiko yang cukup besar adalah politisi Italia kemungkinan akan berhenti mengikuti aturan euro atau tak lagi menggunakan mata uang tersebut. Euro turun satu persen terhadap dolar AS pada Selasa (29/5), merefleksikan kekhawatiran investor.

"Krisis euro yang sejati adalah skenario terburuk," kata Florian Hense, Ekonom di Berenberg Bank.

Italia merupakan ekonomi terbesar ketiga di zona euro, menyumbang 15 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) di kawasan tersebut. Ini jauh lebih besar dari Yunani, sumber krisis zona euro terakhir.


Kendati ada risiko, para analis melihat kecil kemungkinan Italia meninggalkan euro. Namun, peningkatan pengeluaran oleh pemerintah baru Italia dapat meningkatkan ketegangan pasar.

Bertahun-tahun stagnasi dan kurangnya reformasi telah mendorong utang pemerintah Italia hingga berada di atas 2 triliun euro atau sekitar Rp32.000 triliun (kurs Rp16 ribu per euro), setara dengan lebih dari 130 persen PDB negara tersebhtZ. Itu adalah tingkat utang tertinggi ketiga di dunia setelah Jepang dan Yunani.

Lembaga pemeringkat Moody's pada akhir pekan lalu telah memangkas peringkat utang Italia. Mayoritas utang pemerintah Italia dimiliki oleh orang Italia, tetapi Bank Sentral Eropa juga memiliki bagian besar, bersama dengan bank dan investor di Perancis, Luksemburg, Jerman dan Spanyol. (CNN/agi)