Menteri Ketenagakerjaan Minta Ritel Tanggung Jawab Soal PHK

Galih Gumelar, CNN Indonesia | Rabu, 25/10/2017 18:03 WIB
Menteri Ketenagakerjaan Minta Ritel Tanggung Jawab Soal PHK Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) memantau persoalan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) lantaran banyak gerai ritel yang gulung tikar. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) meminta pelaku usaha ritel untuk ikut memikirkan nasib pegawai yang mengalami Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) lantaran banyak gerai ritel yang gulung tikar.

Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri beralasan, hal itu dianggap sama pentingnya dengan kompensasi dasar yang diterima pegawai pasca diputus oleh badan usaha.

Ia menilai gelombang PHK seperti yang terjadi di sektor ritel ini bukan murni disebabkan oleh kesalahan pegawai. Hal ini menurutnya merupakan konsekuensi atas transformasi bisnis ke era digital, sehingga sektor ritel konvensional menjadi korban.



Maka dari itu, seharusnya manajemen perusahaan ritel sedari awal sudah menyusun strategi dalam menghadapi transformasi bisnis ini. Sehingga, segala sesuatunya bisa diantisipasi, termasuk nasib tenaga kerja pasca kena PHK.

“Proses bisnis berubah, ya konsekuensinya nanti seperti apa? Termasuk dari sisi ketenagakerjaan, kalau ada PHK ya tentu hak-haknya harus diberikan. Tetapi, yang paling penting adalah nasib setelah PHK, ini bagaimana? Makanya kami minta kepada perusahaan untuk menyusun skema yang mengukur dampak transformasi bisnis terhadap ketenagakerjaan,” ujar Hanif ditemui di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat, Rabu (25/10).

Namun, sebelum ikut bertanggungjawab atas nasib pegawai, tentu saja perusahaan harus memenuhi kompensasi utama atas pemutusan hubungan kerja. Ketentuan ini tercantum di Undang-Undang (UU) Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.


Untuk itu, lanjut Hanif, Kemenaker berjanji akan terus mengawasi pembayaran kompensasi PHK sesuai ketentuan yang berlaku.

“Dari sisi ketenagakerjaan, kalau ada PHK, (kompensasi) harus sesuai aturan,” paparnya.

Meski demikian, hingga saat ini, ia belum tahu angka pasti pegawai sektor ritel yang sudah terkena PHK. Adapun, data secara agregat bisa didapatkan akhir tahun mendatang.

Namun, meski pasar tenaga kerja ritel sedang lesu, bukan berarti sektor lainnya juga tengah menyusutkan jumlah pekerja. Sebab menurutnya, masih banyak sektor yang membuka lapangan pekerjaan baru, seperti infrastruktur dan manufaktur.


“Orang masuk dan orang PHK ini ada semua. Di sektor tertentu ada PHK, tapi yang lain ada juga (tenaga kerja) yang masuk dan bertumbuh terus,” paparnya.

Sebelumnya, terdapat beberapa gerai ritel fesyen yang ditutup, seperti tiga gerai Lotus Department Store, dua gerai Matahari Department Store, delapan gerai Ramayana, hingga gerai Debenhams Indonesia.

Kendati begitu, berdasarkan hasil Survei Bank Indonesia (BI) Agustus lalu, penjualan eceran atau ritel justru menunjukkan perbaikan. Tercatat, pertumbuhan penjualan eceran nasional naik 2,2 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).