FOTO: 'Perbudakan' Buruh Angkut Perempuan Maroko

AFP Photo/Fadel Senna , CNN Indonesia | Kamis, 12/10/2017 18:50 WIB

Maroko, CNN Indonesia -- Di sepanjang perbatasan antara Spanyol Utara dan Maroko, ribuan perempuan mempertaruhkan nyawa menjadi buruh angkut barang.

<p>Di sepanjang perbatasan antara Spanyol Utara dan Maroko, ribuan perempuan menggantungkan hidupnya menjadi buruh angkut barang dalam operasi perdagangan terorganisir yang mengantongi izin dari pemerintah setempat. (AFP PHOTO/FADEL SENNA)</p>
<p>"/>
<p>Sejauh ini, sudah empat nyawa hilang dalam pekerjaan ini. Para aktivis Maroko dan Spanyol telah berulang kali menyerukan protes terhadap pekerjaan tersebut, karena menurut mereka pekerjaan ini adalah eksploitasi dan menjatuhkan martabat perempuan. (AFP PHOTO/FADEL SENNA)</p>
<p>Para buruh angkut perempuan ini biasanya berkumpul dalam sebuah antrian melalui persimpangan perbatasan di sebuah bukit yang menghadap ke Mediterania antara kota Fnideq di Maroko dan pelabuhan Ceuta, Spanyol. (AFP PHOTO/FADEL SENNA)</p>
<p>Daerah tersebut dipilih karena daerah tersebut merupakan kawasan barang bebas cukai. (AFP PHOTO/FADEL SENNA)</p>
<p>Setelah menjalani pemeriksaan di perbatasan, para "/>
<p>Selanjutnya, mereka akan memasuki kawasan zona komersial yang dibangun pada 2004 silam. Di tempat ini ribuan pedagang Maroko mengisi kembali stok barang dagangan mereka untuk dibawa menuju pusat kota. (AFP PHOTO/FADEL SENNA)</p>
<p>Barang yang dibawa para perempuan Maroko ini biasanya berisikan pakaian, alat rumah tangga, makanan dan berbagai macam barang dagangan lainnya. (AFP PHOTO/FADEL SENNA)</p>
<p>Para perempuan ini menunggu instruksi untuk menyerahkan barang yang diangkut mereka. Mereka kemudian membawa barang angkut yang telah dikemas dalam bentuk tas persegi yang diikat dengan tali, kemudian mereka mengambil tiket dengan jumlah bayaran yang mereka terima setelah pengiriman. (AFP PHOTO/FADEL SENNA)</p>
<p>"/>
<p>Diperkirakan sekitar 15 ribu buruh angkut perempuan menjelajah rute dari Ceuta ke Maroko setiap harinya, walaupun memiliki resiko yang tinggi, namun para pejabat setempat seakan menutup mata terhadap praktik tersebut. (AFP PHOTO/FADEL SENNA)</p>
<p>"/>