Komoditas Lesu, Thomas Lembong Khawatir Investasi Terimbas

Dinda Audriene, CNN Indonesia | Rabu, 26/07/2017 14:25 WIB
Komoditas Lesu, Thomas Lembong Khawatir Investasi Terimbas Pelemahan harga komoditas yang terjadi sejak kuartal II 2017 dinilai dapat menekan angka investasi di Indonesia. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong menyatakan kekhawatirannya soal pelemahan harga komoditas yang terjadi sejak kuartal II 2017. Pasalnya, hal itu dapat menekan angka investasi di Indonesia.

Ia menjelaskan, harga sejumlah komoditas pada tahun lalu hingga kuartal I 2017 terjadi penguatan. Namun, sejak kuartal II harga mulai kembali menunjukkan tren pelemahan.

"Pada kuartal II sudah turun lagi, jadi saya masih khawatir untuk kuartal III dan IV nya," ucap Lembong, Rabu (26/7).

Selain itu, Lembong juga khawatir dengan keseimbangan antara industri padat modal dan padat karya. Jika industri pada modal jauh lebih tinggi, maka secara otomatis akan menggerus kesejahteraan masyarakat.


"Bisa saja nilai investasi naik terus, tapi bayangkan dunia usaha menggenjot investasi yang tujuannya efisiensi berarti mengurangi tenaga kerja yang diperlukan," sambung Lembong.

Menurutnya, peningkatan investasi bukan berarti juga meningkatkan penghasilan dan kesejahteraan masyarakat. Bila tidak dilakukan pembenahan, maka bukan tidak mungkin akan tambah memperburuk daya beli masyarakat yang semakin melambat.

"Saya takut itu yang mengubah kondisi konsumen jadi hati-hati dan tidak mau banyak pengeluaran, sehingga muncul angka penjualan ritel yang soft," papar Lembong.

Kendati demikian, sentimen negatif tentang China yang berkembang di masyarakat tidak mempengaruhi investasi dari China terhadap Indonesia. Terbukti, investasi China ke Indonesia masuk dalam lima besar sepanjang kuartal II 2017, yakni sebesar US$1,3 miliar.

"Investasinya meningkat, kualitasnya juga meningkat, dari kekuatannya di sektor padat modal seperti smelter dan infrastruktur sekarang juga semakin masuk ke sektor padat karya," jelasnya.

Hal ini tak lepas dari partisipasi pemerintah dalam forum Belt and Road Investment di Beijing pada Mei lalu.