Tiga Bank BUMN Berutang Rp 43,28 Triliun dari Bank China

Galih Gumelar & Galih Gumelar , CNN Indonesia | Kamis, 17/09/2015 06:45 WIB
Tiga Bank BUMN Berutang Rp 43,28 Triliun dari Bank China Menteri BUMN Rini Soemarno, Chairman NDRC, dan tiga Direktur Utama Bank BUMN usai penandatanganan pinjaman dari China Development Bank (CDB) sebesar US$ 3 miliar. (Dok. Kementerian BUMN).
Jakarta, CNN Indonesia -- Tiga bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) telah menandatangani kesepakatan pinjaman dengan China Development Bank dengan total US$ 3 miliar atau setara Rp 43,28 triliun. Ketiga bank tersebut adalah PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI), dan PT Bank Mandiri Tbk.

Dikutip dari siaran pers yang diterima Rabu (16/9), dijelaskan bahwa masing-masing bank akan menerima pinjaman sebanyak US$ 1 miliar dengan tenor selama 10 tahun. Lebih lanjut, sebanyak 30 persen dari total utang, atau sebesar US$ 900 juta, memiliki denominasi Renminbi (RMB).

Nantinya, uang tersebut akan digunakan masing-masing bank untuk membiayai pengembangan infrastruktur dan juga perdagangan, khususnya yang dilakukan oleh kedua negara. Menurut siaran pers tersebut, ketiga Direktur Utama masing-masing bank BUMN, Budi G. Sadikin (Mandiri), Asmawi Syam (BRI), dan Achmad Baiquni (BNI) berharap adanya peningkatan pembangunan infrastruktur dari pinjaman ini sehingga nantinya tercipta pembangunan ekonomi yang berkelanjutan.

Sebagai informasi, data portofolio kredit pada semester I 2015 menunjukkan bahwa kredit oustanding infrastruktur BNI tercatat di angka Rp 62,32 triliun dimana angka itu mengalami kenaikan 22,19 persen dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 51 triliun. Bahkan, pada semester II mendatang rencananya perseroan akan menggelontorkan kembali Rp 20 triliun untuk kredit infrastruktur.

Sementara itu, kredit infrastruktur BRI pada semester I 2015 tercatat sebesar Rp 26,41 triliun, atau 20,08 persen dari total kredit korporasi perusahaan sebesar Rp 131,5 triliun. Dengam angka total kredit outstanding BRI sendiri tercatat di angka Rp 503,6 triliun, maka kredit infrastruktur tercatat memiliki porsi sebesar 5,24 persen dari total kredit.

Sedangkan data portofolio kredit Bank Mandiri mencatat adanya pertumbuhan sebesar 18 persen di kredit infrastruktur dari angka Rp 17,6 triliun pada tahun sebelumnya menjadi Rp 20,8 triliun di semester pertama tahun ini. Bank Mandiri juga menargetkan pertumbuhan kredit infrastruktur sebesar 24 persen hingga akhir tahun.

Khusus untuk Bank Mandiri, pinjaman ini merupakan bagian dari penambahan sumber pendanaan sebesar US$ 2 hingga 3 miliar selama lima tahun ke depan. Selain pinjaman dari CDB, rencananya perusahaan juga akan menerbitkan surat utang sebesar US$ 750 juta hingga US$ 1 miliar, menambah pinjaman bilateral sebesar US$ 350 juta dan juga menerbitkan negotiable certificate of deposit (NCD).