Meminta Turun Hujan, Bagaimana Hukum Melaksanakan Sholat Istisqo?

CNN Indonesia
Selasa, 08 Sep 2026 08:45 WIB
Hukum melaksanakan sholat Istisqo.
Ilustrasi. Hukum melaksanakan sholat Istisqo. (REUTERS/Victor Fidelis Sentosa)
Jakarta, CNN Indonesia --

Salat Istisqo menjadi salah satu solusi yang dipilih oleh mayoritas umat Muslim untuk meminta turunnya hujan kepada Allah SWT. Bagaimana sebenarnya hukum melaksanakan sholat Istisqo?

Secara istilah syariat, sholat Istisqo adalah salat untuk meminta hujan yang dilakukan oleh seorang hamba kepada Allah SWT. Salat ini disyariatkan pada saat kemarau panjang hingga minimnya sumber air.

Sholat Istisqo bukanlah satu-satunya cara untuk meminta Allah SWT agar menurunkan hujan. Umat Muslim juga dapat berupaya agar Allah SWT menurunkan hujan dengan berdoa, bertaubat, dan juga puasa.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hukum melaksanakan Sholat Istisqo

Jika dibandingkan dengan doa, bertaubat, dan puasa, sholat Istisqo menjadi cara yang banyak dipilih oleh umat Islam untuk mengetuk langit agar hujan turun. Lalu, bagaimana hukum melaksanakan Sholat Istisqo sendiri?

Dikutip dari NU Online, hukum melaksanakan sholat Istisqo adalah sunnah muakkad atau ibadah sunah yang sangat dianjurkan untuk dilakukan oleh umat Islam. Hukum sholat Istisqo bisa berubah menjadi wajib jika pemerintah memberikan seruan untuk melaksanakannya.

Adapun dalil pelaksanaan sholat Istisqo ini berdasarkan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abdullah bin ZaidRA, di mana Nabi Muhammad SAW menuju lapangan, menghadap ke arah kiblat, membalikkan selendangnya, dan melaksanakan salat dua rakaat.

خَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الْمُصَلَّى يَسْتَسْقِي وَاسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَقَلَبَ رِدَاءَهُ

Artinya:

"Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah keluar untuk melaksanakan shalat istisqa (meminta hujan). Lalu beliau menghadap kiblat dan melaksanakan shalat dua rakaat sambil membalik selendangnya." (HR. Bukhari no. 1024 dan Muslim no. 894)

Tata cara sholat Istisqo

Sholat Istisqo lebih baik dilaksanakan dengan cara bersama-sama atau berjemaah. Berdasarkan hadis di atas, sholat Istisqo juga hendaknya dilaksanakan di lapangan.

Dalam pelaksanaan sholat Istisqo, para ulama juga menganjurkan agar umat Muslim yang hendak melaksanakannya agar keluar dengan tidak bermewah-mewahan. Sebaliknya, para ulama menganjurkan para peserta datang dengan mengenakan pakaian sederhana yang penting bersih dan suci.

Adapun tata cara pelaksanaan sholat Istisqo sama dengan tata cara salat Idulfitri dan Iduladha. Salat dilaksanakan sebanyak dua rakaat, dengan niat untuk melaksanakan sholat sunah Istisqo.

Setelah membaca takbiratul ihram rakaat pertama, disunahkan untuk membaca bacaan takbir sebanyak tujuh kali. Pada rakaat kedua, sebelum membaca surat al-Fatihah disunahkan untuk membaca bacaan takbir sebanyak lima kali.

Saat salat selesai ditunaikan, umat Muslim dianjurkan untuk membaca dua khutbah seperti khutbah hari raya Idulfitri maupun Iduladha. Perbedaannya terletak pada bacaan takbir yang diganti dengan bacaan istigfar yang dilakukan sebanyak sembilan kali pada khutbah pertama dan tujuh kali pada khutbah kedua.

Terdapat perbedaan pendapat para ulama terkait waktu yang bisa dipilih untuk melaksanakan sholat Istisqo, terutama pada batasan akhirnya. Namun, pendapat Imam Syafi'i dan mayoritas para ulama menyebutkan bahwa salat ini tidak memiliki waktu yang khusus.

Dengan kata lain, sholat Istisqo bisa dilakukan setiap waktu, siang atau malam, kecuali pada waktu-waktu tertentu yang telah dimakruhkan untuk melaksanakan ibadah salat.

Demikianlah pembahasan mengenai hukum melaksanakan Sholat Istisqo yang dapat dijadikan referensi bagi umat Muslim.

(ahd/asr)
placeholder