Itulah pula yang dialami tim pendaki perempuan, tiga mahasiswi asal Universitas Parahyangan, Bandung, The Women of Indonesia's Seven Summits Expedition (WISSEMU).
Sudah empat puncak dilalui, terakhir adalah puncak Aconcaqua di Argentina pada akhir Januari silam. Tinggal tiga puncak lagi yang dituju berturut-turut yakni Vinson Massif di Antartika, puncak Denali di Alaska, serta puncak tertinggi dunia Everest di Nepal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Didi memperkirakan perjalanan mereka berikutnya akan lebih mahal dari yang sebelumnya. Sebagai gambaran, setiap perjalanan yang telah mereka tempuh rata-rata membutuhkan dana Rp500 juta.
"Kami terbang selalu membawa nama Indonesia. Kami mencoba untuk menjadi tim putri Indonesia pertama yang mencapai tujuh puncak dunia. Kami mohon agar pemerintah tetap memberikan bantuan. Kami juga masih tetap minta bantuan, dukungan, dan doa dari segala macam pihak," kata Fransiska yang merangkap tugas sebagai ketua tim ekspedisi.
Senada, Mathilda pun berharap agar perjalanan berikutnya tidak ada hambatan soal dana. "Ini ekspedisi kita bersama, ekspedisi anak muda Indonesia," ucapnya.
Beberapa waktu lalu Tim Wissemu mengaku sudah berkoordinasi dengan Walikota Bandung, Ridwan Kamil, untuk meminta bantuan pada misi berikutnya. Selanjutnya, mereka juga berencana bertemu dengan Gubernur Jawa Barat dan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.
Selain itu, Tim Wissemu pun sudah meminta bantuan dari Kementerian Luar Negeri (Kemenlu).
"Mereka (pihak Kemenlu) memberi kami surat rekomendasi. Jadi ketika di negara tujuan, ada KBRI yang membantu dan menerima kami," ucap Didi.
(kid)