"OKI dibentuk karena adanya kebutuhan mendukung perjuangan kemerdekaan Palestina. OKI harus jadi bagian dari solusi. Jika tdk bisa, keberadaan OKI jadi tidak relevan lagi," ujar Jokowi saat membuka KTT Luar Biasa OKI untuk Palestina dan Al-Quds Al-Sharif di Jakarta pada Senin (7/3).
Kala itu, tepatnya pada 21 Agustus 1969, seorang turis asal Australia, Denis Michael Rohan, membakar Masjidil Al-Aqsha. Rohan sendiri merupakan anggota sekte gereja injili yang dikenal dengan nama Worldwide Church of God. Rohan membakar masjid karena berharap dapat mempercepat kedatangan Yesus untuk kedua kalinya dan membuka jalan untuk dibangunnya kuil Yahudi. Rohan akhirnya dirawat di sebuah institusi kejiwaan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Hasan, Palestina sendiri sebenarnya sudah mendeklarasikan kemerdekaan pada 1988, tapi hingga kini tak pernah mendapatkan kebebasan penuh dari Israel. Pencaplokan daerah dan kekerasan terus terjadi, menjatuhkan korban jiwa baik warga sipil Palestina maupun Israel.
"Tahun 1988 Palestina menyatakan kemerdekaan, dan tahun 1989 Indonesia mengakui kemerdekaan itu dengan menerima perwakilan Palestina di Jakarta," ucap Hasan.
"Situasi tersebut harus dihadapi bersama. Kita harus bersatu. Palestina harus bersatu, harus ada rekonsiliasi. Indonesia siap membantu proses tersebut," kata Jokowi.
Lihat juga:KTT OKI dan Kemerdekaan Palestina |
"Perkenankan saya menyampaikan bahwa Indonesia telah menunjuk Nyonya Maha Abu Susheh selaku Konsul Kehormatan Republik Indonesia untuk Palestina, serta dalam waktu dekat akan meresmikan kantor Konsulat Kehormatan RI di Ramallah, Palestina," katanya. (stu)